Saturday, December 12, 2009

POLEMIK MOTOCROSS INTERNASIONAL CHAMPIONSHIP DI STADION BRANTAS KOTA WISATA BATU

Muhammad Anwar 11 Desember jam 18:29 dalam facebook menulis

Pergelaran "Motorcross Internasional Championship" yang awalnya diadakan di dalam Stadion Gelora Brantas Kota Batu, terpaksa dipindah di luar stadion, terkait protes dan ancaman berbagai kelompok masyarakat di kota Batu yang juga menolak kompensasi yang ditawarkan oleh penyelenggara "Motorcross Internasional Championship" dengan mengganti kerusakan rumput stadion.

Kelompok Masyarakat Eman Stadion (MES) Kota Batu mengancam akan mengelas total semua pintu Stadion Gelora Brantas jika pelaksanaan Super Cross tetap digelar di Stadion Brantas, Sabtu (12/12). MES juga akan menghadang motor yang sedang berlomba.

Kelompok ini mengakui cara anarkis inilah satu-satunya yang bisa menyelamatkan Stadion Brantas dari perusakan. “Kalau Pemkot Batu tak juga membatalkan memang hanya ini jalan yang diharapkan mereka. Itu stadion kebanggaan Kota Batu yang dibangun dengan keringat siswa dan rakyat Batu,” ungkap KAYAT HARIYANTO, anggota MES, saat mengadu ke Gedung DPRD Kota Batu, Kamis (10/12).

Ketua penyelenggara "Motocross Internasional Championship", DIRA SULANJANA, Jumat, mengatakan, pihak panitia terpaksa mengalah sebab terus mendapat tekanan dari warga, sementara pihak pemkot belum bisa memutuskan. Akibatnya, sejumlah peserta kegiatan internasional ini protes kepada panitia. "Kami diprotes peserta, mereka mengaku kecewa, tapi bagaimana lagi kami sudah tertekan," ujarnya.

Sejumlah peserta yang protes itu, dikarenakan kecewa dengan keputusan panitia yang secara mendadaK memindah sirkuit yang sebelumnya sudah jadi di dalam Stadion Gelora Brantas.

SULIADI, KETUA DPRD KOTA BATU, mengaku hingga Rabu (9/12) siang tak tahu stadion itu dijadikan sirkuit dan dimasuki alat berat untuk membuat superball (gundukan tanah).

Namun Rabu (9/12) malam, ia mendapat jaminan WAKIL WALI KOTA, HA BUDIONO, bahwa kasus ini segera diselesaikan. “Memang tak ada koordinasi dari panitia maupun Pemkot Batu. Tetapi kami akan mencarikan solusi terbaiknya,” ucap Suliadi.

PUNJUL SANTOSO menawarkan tiga solusi penyelesaian, yaitu berkirim surat ke wali kota tentang aspirasi warga yang menolak sirkuit di stadion, mendesak wali kota mencabut izin Super Cross, atau berkoordinasi lagi dengan eksekutif. Wakil Wali Kota Budiono, sendiri ketika sampai di gedung dewan atas permintaan ketua dewan, mengaku telah mendapat jaminan dari pihak penyelenggara motorcross akan ada recovery rumput lapangan sepak bola itu. “Ini adalah win-win solution terbaik yang ditawarkan panitia,” tandas Budiono

(Tulisan diatas di kutip dari beberapa Media Massa)

Wahh.. Kota Batu bener bener rame ya bulan Desember ini. Baru seminggu Jamboe Scooter se-Asia Tenggara digelar, besok Sabtu akan ada event berskala nasional di Stadion Brantas. Tapi, dari narasi diatas yg aku kutip dari beberapa media massa diatas, rupanya ada masalah…

Aku masih inget pas masa SMA, sekitar tahun 2002 an.. di Stadion Brantas dalam pernah diselenggarakan event Atraksi Mobil dari Stuntman nya Hollywood. Memang, pada saat itu, kondisi rumput stadion belum sebagus sekarang. Tp, event yg dilaksanakan pada saat malam hari dan dikomersilkan tersebut sangat mengundang antusias masyarakat Batu, sampai sampai aku aja nontonnya musti manjat pohon dulu.. bukan karena penuh di dalam, tp ga mampu beli tiket.. hehehe

Apa yang sesungguhnya terjadi saat ini, adalah tragedy MISSKOMUNIKASI antara EO penyelenggara, PEMKOT BATU, Legislatif dan Masyarakat Kota Batu. Ironis memang, sebagai kota yang memproklamirkan diri sebagai SENTRA PARIWISATA memang semestinya banyak acara/event yang Kota Batu menjadi Tuan Rumah.

Dalam artian sebagai Tuan Rumah, haruslah menjadi Tuan Rumah yang baik dan bisa berperan secara penuh untuk kesuksesan setiap acara. Tidak sekedar menjadi penonton atau sekedar pembantu umum.

Polemik yang terjadi adalah akibat :

1. EO Penyelenggara tidak melibatkan sumber daya manusia local (Talent) Kota Batu dalam event tersebut. Mereka berpandangan, prosedur perijinan hak guna Stadion Brantas cukup berhenti di pihak Pemerintah Kota Batu (UPTD Stadion Brantas). Entah proses negoisasi apa yang mereka sepakati, yang jelas memang ada kesepakatan kompensasi mengganti kerusakan rumput Stadion Brantas.

2. Kenapa musti di Stadion Dalam Brantas??? Karena event ini di komersilkan (ticketing). Kita pastinya tahu arena pacuan kuda Lapangan Arjuno di Bumiaji, tempat tersebut sebetulnya juga sangat representative buat di adakan event tersebut. Ga perlu ganti rumput paska acara dan proses ticketing jg masih bisa dilakukan. Masyarakat di sanas aku yakin antusias dengan adanya event2 semacam itu, sebab di satu sisi tidak terjadi Sentralisasi Keramaian di wilayah Batu Kecamatan.

3. Setelah proses DEAL sewa stadion Brantas tersebut, pihak PEMKOT Batu ga ada sosialisasi tentang kompensasi ganti rumput tersebut. Padahal, hari gini jamannya media massa.. ada juga Agropolitan TV dan Web : www.kotawisatabatu.com. Apa susahnya??? membuat konferensi pers di Koran, press relist di web… walaupun ada anggaran yang dikeluarkan untuk tahap ini tentunya.

4. Melihat komentar Yth. Bapak Suliadi Ketua DPRD Kota Batu yg ga tahu dengan polemic ini sampai pada hari Rabu siang, 9 Desember 2009, padahal sejak awal Desember 2009 publikasi event tersebut udah bergaung dimana mana. Sepertinya ada komunikasi yg “kurang akrab” antara legislative dan eksekutif. Ketika muncul polemic permasalahan serta tindakan “turun ke jalan” warga yang tergabung Masyarakat Eman Stadion (MES), baru kemudian terjalin komunikasi untuk mencari win-wis solution. Apakah susah ya? Meminimalisir kemungkinan permasalahan yang semestinya ga terjadi.

5. MES : Masyarakat Eman Stadion. Komunitas dadakan dari beberapa LSM di Kota Batu menanggapi dan menolak adanya event motocross ini. Batu itu kota kecil, sebagian besar orang-orang yang di dalamnya pada kenal. Terlepas dari kepentingan apa yg mereka bawa, sah-sah aja mereka muncul. Sebab, bila di analogikan secara objektif, apabila terjadi ketidak suksesan event motocross ini bukanlah “sebab” dari MES. Sebab, MES sendiri bukanlah penyebab, tp MES muncul sebagai “AKIBAT” dari misskomunikasi dan kejadian yang terlupakan antara EO pelaksana, PEMKOT Batu kepada masyarakat Batu.

Kalo difikir fikir lagi, kenapa harus bikin susah ya? Padahal tujuan salah satu acaranya adalah menghibur masyarakat Batu. Kerugian terbesar jelas ada pada EO penyelenggara dan peserta yg kecewa, walaupun event motocross ini di sponsori produk terkenal, tidak akan berpengaruh besar terhadap promo sebab publikasi brand product malah semakin terkenal.

Semestinya hal konkrit yang musti dilakukan daripada membuat polemik adalah : Perjanjian berdasar Hukum antara PEMKOT Batu dan EO Penyelenggara Motocross untuk mengganti setiap kerusakan sekecil apapun di Stadion Brantas Kota Batu yang di akibatkan adanya acara. Dengan pemantauan oleh DPRD Kota Batu dan pengawasan ketat MES (Masyarakat Eman Stadion).

Event berjalan sukses.. EO Penyelenggara senang… Peserta berkesan dengan Kota Wisata Batu… PEMKOT Batu tenang… MES damang… Uwong mBatu terhibur… daripada buang buang energy gitu loh….

Sekedar informasi, kota Batu telah masuk “siaga gawat” di blacklist oleh perusahaan-perusahaan yang hendak menyelenggarakan promo event.

Nah, ujung-ujungnya siapa yg rugi???

No comments:

Post a Comment