cookieOptions = {link}; Hafid Junaidi | Relatif - Nisbi - Fana

Tuesday, November 19, 2019

Kode faktur 020

0 coment

Beberapa Minggu ini dilucukan dengan rekanan kantor yg keukeuh minta bukti potong PPN dan PPh 22. Pasalnya mereka bilang sudah bayar pajak tersebut sementara kami di dinas membayar mereka LS dari KPPN dengan memungut pajak tersebut. Jelas saja tidak akan nyambung fungsi bendahara kantor yg memungut PPN namun rekanan meminta bukti potong. Kenapa? Karena memang tugas bendahara memungut dan atau memotong. Untuk PPN dan PPh Pasal 22 bendahara hanya melakukan pemungutan saja, bukan pemotongan. Berbeda dengan PPh pasal 21, 23, maupun pasal 4 final yang memang melakukan potongan sehingga ada bukti potong.

Apa bedanya? Kalau memungut PPN bendahara melakukan setoran atas pungutan pajak tersebut (termasuk PPh 22) menggunakan NPWP rekanan, sementara untuk PPh pasal 21, 23, dan pasal 4 ayat 2 bendahara melakukan pemotongan dan menyetornya dengan NPWP bendahara, dan bendahara membuat bukti potong atas hal tersebut.

Nah kenapa ada rekanan yang keukeuh meminta bukti potong PPN? Ternyata ada yg perlu bendahara perhatikan dalam menerima faktur pajak atas tagihan. Bahwasanya ternyata faktur (dalam hal ini e-faktur) menyediakan menu faktur untuk pungutan bendahara ini, yakni dengan kode 020. Berbeda dengan faktur biasa dimana rekanan harus bayar memang dengan kode 010. Nah disini sepertinya bendahar harus lebih teliti lagi, bila menerima faktur 010 padahal bendahar wajib pungut, sebaiknya minta rekanan untuk memperbaiki faktur tersebut dengan kode 020. Sekian sekilas info semoga bermanfaat.

Tuesday, October 29, 2019

Sebuah pertanyaan selisih tunkin-tuprof

0 coment

Sedang terdesak mengerjakan perhitungan kekurangan tunkin/ selisih tunkin untuk penerima tuprof, dimana adanya perbedaan pengenaan pajak bagi keduanya, bilamana tuprof dikenakan pajak final, untuk tunkin pengenaan pajaknya menggunakan pendekatan PTKP dengan pajak DTP. Untuk itu ada hal-hal yang masih dipertanyakan tentang pengamrahan selisih tunkin atas tuprof tersebut. Yakni apakah selisih dihitung berdasarkan pencairan tuprof bruto apakah berdasar tuprof netto? Bukan hanya itu, untuk masalah potongan disiplin pada tunkin misal, apakah dikenakan atas selisihnya saja ataukah atas sebesar tarif tunkin?.

Sekedar opini kami pribadi saja, kami akan mengemukakan 2 pendapat atas hal ini. Dengan asumsi kewajiban yg sama telah dipenuhi penerima tunkin saja maupun atas penerima selisih tunkin dan tuprof, maka lebih adil bila selisih tunkin dihitung atas pencairan tuprof netto, karena pajak tuprof mengurangi penerimaan tuprof, berbeda dengan tunkin. Sementara untuk potongan kedisiplinan, lebih adil pula bila didasarkan pada besaran tunkin, bukan pada besaran selisih tuprof pada tunkin.

Cukup sekian pendapat kami, karena cukup meringis juga dengan pendekatan yang beda setelah kami hitung untuk pencairan selisih tunkin dan tuprof bagi 24 penerima saja (dengan 9 grade 11, 12 grade 9, dan 3 grade 8) antara pendekatan tuprof bruto dan neto bisa selisih sampe 100juta. Nah loh, mohon sudah ada petunjuk sebelum penganggarannya.

Antara WAG dan e-mail

0 coment

Entahlah apa yang sedang terjadi, akhir2 ini WAG sering digunakan pula untuk mengirimkan surat dinas, entah itu di instansi yang sama, maupun antar instansi. Seakan fungsi email sebagai surat elektronik sudah tergeser dengan fasilitas WAG yang dapat melampirkan file surat pdf tersebut. Namun hal tersebut tidak luput dari kekurangan WAG, yakni fungsi utama sebagai media komunikasi yang lebih seperti diskusi itu, penyampaian surat dinas melalui WAG dipandang kurang efektif bagi beberapa orang yang memang tidak terlalu aktif mengikuti WAG. Yang kadang masuk grup saja merasa menjadi beban, baik itu mungkin beban perangkat, maupun beban pengguna sendiri.

Jadi mohon bijaklah dalam penggunaan WAG. Memang kami bukan yang punya aplikasi tersebut, namun penggunaan yang semakin meluas tersebut semakin mempersempit kemampuan kita dalam menggunakan aplikasi lain, misal menulis ulang berita dalam WAG tanpa pranala sumbernya, bukankan di WAG kita juga bisa memberikan langsung pranala luar sehingga orang bisa membaca langsung dari sumbernya?