Friday, February 9, 2018

Standar ganda

0 coment

Kadang manusia khilaf dengan standar gandanya, kali ini masalah pengakuan utang atas daya jasa pada penyajian di laporan keuangan. Meskipun secara esensi pemakaian daya jasa bulan Desember baru dibayar bulan Januari yg artinya beda tahun pembukuan, sayangnya selama ini tagihan daya jasa tersebut menuliskan tagihan bulan berkenan pembayaran, bukan bulan berkenan pemakaian. Bila tahun 2016 daya jasa tersebut kita akrualnya dengan pendekatan esensi, kini untuk laporan 2017 menggunakan pendekatan tekstual sehingga tagihan daya jasa tersebut tidak boleh diakrualkan. Virus tekstual sedang mengalahkan esensi yg lebih penting. Standar ganda, entah bagaimana untuk 2018 nanti. Pion tetaplah pion.

Saturday, February 3, 2018

Tulisan orisinil

0 coment

Bertemu teman lama waktu kuliah D3TKJ dulu, tak terhindarkan omongan2 yang menyinggung beberapa hal yang pernah diajarkan waktu kuliah dulu. Salah satunya adalah nge-blog.

Kami sendiri sudah meneguhkan diri untuk kegiatan ini, disampingnya arus trend lain di dunia internet, semisal grup wa yang meninggalkan BBM, Instagram yg melupakan photobucket, atau bermunculannya para youtuber, bahkan vlogger, bagaimanapun kami lahir di jaman blogger dan masih setia belum mampu melirik platform lainnya.

Dalam dunia blogger menurut kami yg paling penting adalah orisinalitas tulisan. Tulis aja semampu kita dengan gaya kita atas bahan yang kita kuasai. Dan tetap bertanggung jawab yang artinya bila ada respon netizen selayaknya kita respon balik juga dengan bertanggungjawab. Tidak asal copy atas konten situs lain.

Wednesday, January 31, 2018

Ekuitas equilibrium

0 coment

Ekuitas adalah hak sisa dalam sebuah neraca akuntansi, dimana bila aktiva berasal secara penuh dari pasiva, dan dimana pasiva adalah sumber aktiva, dan aktiva ada yg bersumber dari kewajiban, maka sisanya adalah ekuitas. Bila aktiva atau aset lebih kecil dari kewajiban maka dipastikan ekuitas bernilai minus.

Sementara equilibrium adalah keseimbangan, sama halnya dengan neraca itu sendiri, besaran aktiva selalu sama dengan pasiva, dan penyeimbang aset dengan kewajiban adalah ekuitas, itulah yang menjaga sifat equilibrium dari neraca.

Pada dasarnya merger adalah menyatukan neraca beberapa entitas. Dalam kegiatan merger inilah ekuitas equilibrium harus dipertahankan.

Dalam merger satuan kerja pemerintah, secara laporan keuangan basis kas mungkin aman (ending LRA) karena sejak awal satker merger tidak mendapatkan Dipa, maka dipastikan tidak akan ada realisasi belanja, namun masih dimungkinkan adanya realisasi pendapatan, bila itu terjadi maka yang diperlukan adalah pemindahbukuan pendapatan tersebut kepada satker penerima merger.

Masalah merger adalah pada laporan akrual, disinilah letak masalah harus dipertahankannya equitas equilibrium.

Proses normalnya (pendapat kami pribadi) adalah dimulai dari merger persediaan (persediaan di tktm-kan) lalu adk persediaan yg kosong dikirim ke simak. Setelah itu simak/ aset tetap juga dimerger (di tktm-kan) sampai habis lalu adk simak yg kosong dikirim juga ke saiba. Setelah itu saiba mengosongkan residu neraca (kemungkinan sisa aset lancar dan utang).

Nah bisa jadi ketika merger persediaan tidak ditransfer namun malah dihabiskan dengan pola konsumsi, maka dengan rentetan yg hampir sama dengan di atas, seharusnya perlu juga di saiba mentransfer beban persediaan ke satker penerima merger. Terlebih juga bila terjadi penghapusan aset juga perlu mentransfer beban penghapusan, karena seharusnya satker yang di likuidasi sudah tidak menghasilkan laporan baik lra, lo, lpe, maupun neraca