Wednesday, April 16, 2014

Revisi yang telat

0 coment
Entah apa yang terjadi di lingkungan Kemenag Pusat/ Dirjen Anggaran, meskipun menurut Surat DJPB No S/02103/PB/2014 dinyatakan bahwa perpanjangan revisi pagu minus dilaksanakan sampai batas rekon SAI dengan SAU pada 7 April 2014 yang lalu, ternyata di eselon 025.06 (Bimas Katolik) contohnya pada satker Kankemenag Kota Batu (yang bahkan tidak menusulkan revisi anggaran pagu minus) mengalami revisi tingkat DJA dengan penambahan pagu hanyas sebesar 2 ribu rupiah saja (tapi mungkin ada revisi signifikan di satker eselon yang sama di Kabupaten/ Kota lainnya) terjadi/ disetujui oleh DJA pada tanggal 10 April 2014 kemarin. Lihat gambar di bawah (klik untuk memperbesar)

Wednesday, April 2, 2014

Alasan belanja 53 di bawah 50 juta dengan GU

0 coment
Suatu saat nanti bila dipermasalahkan irjen atas belanja 53 dengan mekanisme GU (bukan LS) paling tidak seperti ini kronologinya sesuai PMK 190/PMK.05/2012.

Pada pasal 29 ayat 2 bentuk komitmen adalah:
a. Perjanjian/ Kontrak untuk pengadaan barang/jasa
b. Penetapan Keputusan

Dalam Pasal 39 ayat 4 disebutkan bahwa dalam hal pembayaran LS tidak dapat dilakukan, pembayaran tagihan kepada penerima hak dilakukan dengan UP (Disini terlihat bahwa sebenarnya disarankan LS). Tapi karena dalam keruwetan SPAN dimana KPPN sendiri menyarankan untuk transaksi dibawah 50 juta untuk tidak menggunakan kontraktual, maka ada metode LS lainnya yakni LS Kwitansi.

Wednesday, March 26, 2014

Antara Ghibah dan Fitnah

0 coment

Kalau ada orang memfitnah kita, maka ia berdosa dan tidak bisa menghindar dari neraka. Satu-satunya jalan untuk membebaskan mereka dari neraka adalah mengubah fitnah itu menadi tuduhan yang mengandung kebenaran (tapi ini juga ghibah, red). Kalau para caleg itu tetap bertahan membagi-bagikan uang harta tanpa pamrih, maka posisi masyarakat adalah pemfitnah. Maka supaya masyarakat berubah dari status pemfitnah menjadi pengungkap kebenaran, para caleg itu terpaksa berpamrih, demi keselamatan masyarakat yang semula memfitnahnya.

Kutipan tersebut salahsatu isi dari bukunya Emha berjudul Demokrasi La Roiba Fih, bacaan yang kompeten untuk saat ini.