Tuesday, March 25, 2014

Kecenderungan Konservatif

Dalam bukunya Zaki Baridwan yg berjudul Intermediate Accounting mengungkapkan salahsatu keterbatasan laporan keuangan adalah "konservatif". Ini artinya laporan keuangan cenderung tidak akan membuat aktiva dan pendapatan terlalu besar.  Dimana kenaikan nilai aktiva dan laba yang diharapkan tidak boleh dicatat sebagai realisasi, tapi sebaliknya penurunan aktiva dan rugi yang diperkirakan harus dicatat walaupun jumlahnya belum dapat ditentukan.

Namun di dunia personal, keterbatasan laporan keuangan ini ternyata juga dialami dalam pelaporan SPT perseorangan. Kecenderungan menuliskan jumlah harta lebih kecil dari harta yang sesungguhnya banyak ditemui. Mungkin karena perseorangan yg tidak pernah mencatat (normalnya begitu) atau takut diketahui kekayaannya oleh kantor pajak sementara di sisi lain membanggakan kekayaannya.


Belum lagi kewajiban zakat dimana tentu beda dengan sedekah. Bukankah zakat wajib dihitung pasti dan tidak boleh kurang? Sementara sedekah bisa sebanyak2nya tanpa batas? Di sisi lain apakah niat sedekah dan zakat dibedakan? Artinya bolehkah niat zakat tapi tidak dihitung dengan benar? Ataukan boleh berzakat dengan niat sedekah tanpa menghitungnya? Apakah sedekah menghapus kewajiban zakat? Samakah mustahik zakat dengan sedekah? Benarkah beberapa dalil ttg zakat memakai lafadz sedekah?

Yang ujungnya seberapa pentingkah kita mengetahui jumlah kekayaan kita, hak mustahik zakat (najis dalam kekayaan kita) yang belum kita salurkan, apakah kita perlu konservatif dalam menghitung kekayaan kita?

No comments:

Post a Comment